Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Senin, 09 Oktober 2017

Tidak Percaya Pernikahan || Cerita Fiksi 2017


Well, kali ini aku akan posting hasil wawancara dengan temen aku lagi nih. Bukan wawancara sih lebih tepatnya obrolan hehe
...
Namanya W laki-laki, usianya 25 tahun.
Yang aku tau, dia orangnya asyik aja kalau diajak bicara, karena dia nyambung aja gitu lho, topik apa aja pasti nyambung, musik, film, politik, sosial, dan keluarga.

Sebenarnya aku mau nulis tentang sosial, apalagi tau sendiri kan kehidupan sosial masyarakat kita ini udah semerawut banget, udah gak jelas mau bagaimana.
Tapi dari pembicaraan kami (aku sama si W), aku lebih tertarik dengan kehidupan dia bersama keluarga.
Kalau udah ngomongin keluarga ya jelas lah ya tergambar sebuah rumah yang didalamnya berisikan ayah, ibu, saudara-saudara dan kita sendiri.
Seberapa manis sih keluarga kalian ?
Punya cerita tentang keluarga juga ? Ditunggu ya email-nya 😀


(This's real tulisan ya. U understand?)

Si W ini terlahir di tengah keluarga yang culture nya udah memudar, jadi gak terlalu kolot banget, semua keluarganya lumayan modern lah ya, yang aku tangkep dari obrolan kami sih seperti itu.
Dia anak laki-laki ketiga dari enam bersaudara. Pertama kedua dan ke empat adalah perempuan dan sisanya adalah laki-laki.
Dia dan semua saudaranya merasakan bagaimana hidup bersama seorang ibu tiri dan ayah yang lumayan sibuk bekerja. Tapi katanya sekarang ayahnya sudah tidak terlalu sibuk, jadi kesehariannya banyak menghabiskan waktu di rumah.
Semua saudara perempuannya sudah menikah semua, tinggal dia dan kedua adik laki-lakinya yang belum, yang paling kecil sih masih sekolah katanya.

Ada yang menarik dari obrolan kami dan justru aku jadikan poin topik, yaitu masalah pernikahan.

Secara kan dari tadi dia cerita tentang semua saudaranya yang sudah menikah, bahkan adik perempuannya aja udah menikah juga.

Dan keluarlah pertanyaan yang sering aku dengar juga sih, "kapan kamu akan menikah ?"

And u know what?

W menjawab dengan Oh God aku sedikit terkejut sih.
Dia jawab bahwa dia tidak percaya dengan pernikahan.
Why ? Aku tanya dengan sedikit serius. Karena baru kali pertama aku mendengar jawaban seperti itu. Kalau kali kedua kan judul lagu Raisa hehe

Dan,
Dan dari jawaban dan penjelasan yang aku dengar, berikut aku sedikit rangkum.

Dia tidak percaya pernikahan karena memang dia tidak niat untuk menikah.
Kenapa ?
Karena bagi dia nikah itu hanya membuang waktu dan percuma aja.
Padahal aku juga tau kalau dia belum pernah menikah dan jawabannya seperti itu.
Ya, dia memang belum pernah menikah. Tapi dia membuka rekaman yang selama ini tersimpan di memori internal otaknya. Dari semua yang pernah dia lalui bersama orang-orang yang selama ini ada dalam kehidupannya, terutama kelurga yang terikat dengan pernikahan.

Ada yang sudah menikah dan mempunyai anak. Ketika anak sudah dewasa dan tidak lagi bersama mereka maka mereka merasa kesepian dan mencari jalan keluar dengan mengadopsi anak dari keluarga lain.
Dan mungkin karena anak aslinya memang standar aja, jadi tidak pernah ada emosi atau perasaan yang memancing emosi, anaknya sendiri selalu nurut sama mereka. Sangat berbeda dengan anak adopsinya itu. Nakal ? Anak kecil ya nakal mah wajar lah ya. Tapi emang ada emosi dan cara mendidik anak yang kurang baik, jadi ya sekarang si anak malah tumbuh dewasa dengan berbagai masalah yang dihadapi si anak itu sendiri.
Mungkin si anak sekarang emang udah tumbuh dewasa dan bukan lagi disebut anak-anak yang harus diperlakukan sebagaimana anak. Tapi psikologi si anak sudah terlanjur rusak dengan memori yang dipenuhi oleh episode-episode buruk dan membuat rasa sakit jika mengingatnya.
Mungkin saat belasan tahun lalu si orang tua angkat itu tidak pernah memikirkan dampak negatif bagi masa depan si anak yang kala itu diperlakukan seperti itu, bentakan, teriakan, drama dan sedikit kekerasan, ya mungkin memang levelnya biasa aja, tapi kalau sering bahkan terlalu sering menerima perlakuan seperti itu ya tetap saja psikologi anak akan rusak, that's why ? Cara mendidik yang tidak tepat. Dan itu sebuah keluarga dan dimulai dengan pernikahan.

Kemudian dia bercerita tentang sebuah keluarga yang sudah menikah bertahun-tahun, mempunyai anak, keluarga yang lumayan royal lah ya, tapi sang suami ketahuan berselingkuh dan jelas dong mereka bercerai.
Anak jadi korban dong ya ?
Iya lah. Jelas korban!
Kasih sayang yang you know lah gak jelas harus bagaimana si anak menyikapinya.
Intinya psikologi anak itu sudah jelas rusak dengan menyaksikan kisah yang seperti itu, jangankan anaknya, si W aja kan masih mengingatnya sampai saat ini.
Si mantan suami sudah mempunyai keluarga baru, si istri sudah beberapa kali menikah dan bercerai lagi.
Dan, waktu terus berlalu, si anak yang tiba saatnya menikah. Dan whatever masalah internal diantara mereka dan berakhir dengan perceraian.
Kemudian si anak menikah lagi dan selalu ada pembicaraan di keluarganya mengenai keluarga baru si anak.
That's you know. Sedikitnya akan terasa, jika suatu saat terdengar akan terekam dan tersimpan. Dan itu jelas bahwa itu sangat mempengaruhi semuanya.
Psikologi lagi yang jadi pusat kerusakan kan ?

Kemudian W melanjutkan dengan cerita keluarga lagi.
Sebuah keluarga yang mempunyai satu anak dan tau dong kalau satu anak itu kasih sayang pasti dan sudah jelas tercurahkan kepada si anak itu semuanya, full for 1 children.
Tapi si anak tidak berlangsung lama mendapatkan semuanya itu, harus terganggu oleh pertengkaran basic dalam keluarga yang mereka atau kalian anggap itu bumbu rumah tangga or whatever namanya, dan cinta kasih sayang kepada si anak harus ter-pause oleh sebuah perceraian.
Ketika si ayah sudah menikah lagi dengan perempuan yang sudah mempunyai satu anak.
Dan si ibu menikah lagi dengan laki-laki yang sudah mempunyai anak juga.

Sorry, aku gak bisa meneruskan tulisan tentang cerita keluarga yang ini, soalnya aku baper dan tau banget apa yang dirasakan si anak ini. Not now but,

Kemudian si W bercerita tentang keluarga yang melihat harta pasangannya saja.
Menikah karena hartanya sang suami lebih banyak ?

Dan masih banyak lagi rekaman-rekaman di kepalanya yang membuat si W tidak percaya dan membenci sebuah pernikahan.
Baginya pernikahan itu memang wajib, apalagi islam agama yang dianutnya menuntut seorang laki-laki untuk berkeluarga dan bisa memimpinnya.
Terlepas dari kemampuan syarat seorang laki-laki untuk menikah ya itu bisa dicari dan diusahakan lah ya, tapi semuanya kembali kepada hati masing-masing. Niat.
Niat atau tidaknya seseorang untuk menikah.

...

Yang aku rangkum

Pernikahan itu tidak membahagiakan, pernikahan itu seperti sebuah pintu menuju rasa sakit yang akan dirasakan kapan aja, pernikahan itu hanya menutupi aib keluarga, pernikahan itu hanya mencari keringanan materi, pernikahan itu cinta ?

WTF cinta!

Maaf baper. ✌️

Tapi si W juga bilang sih.
Dia gak tau akan bagaimana suatu saat nanti, entah mungkin akan bertemu dengan waktu dimana dia berdiri ditengah kepercayaan untuk membuat sebuah ikatan pernikahan dengan orang yang dicintai dan mencintainya, tapi kalau saat ini ya seperti yang udah dia bilang tadi, dia tidak percaya pernikahan.

...

Yang aku tangkep nih ya.

Tau trauma ? Traumatis ?
Mungkin memang dia belum pernah menikah dan bagaimana berumah tangga itu, tapi dari semua yang pernah dia lihat ya pernikahan memang begitu adanya.

 So complicated!

Rumit banget ya.


...

Pesan dari aku yang labil dan suka baper haha


Makanya, buat kalian yang udah punya anak, dijaga baik-baik tuh. Bukan cuma dikasih makan dan pakaian bagus juga disuruh pergi ke sekolah dan ngerjain PR or ngaji or whatever namanya, jagalah dia, bukan jaga tubuhnya tapi jagalah perasaannya, hatinya, jagalah otaknya, jangan sampai ada pikiran negatif yang masuk dalam otak anak kalian.
Sedikit banyaknya tetap akan tersimpan di dalam sana. Akan terekam, tidak akan pernah terhapus. Jadi buatlah momen seindah mungkin bersama anak kalian.

Hidup memang tidak akan lama, tapi kalian yang sudah mempunyai anak akan mempunyai cucu dan cucu kalian mempunyai banyak keturunan lagi.
Jadilah akar yang kuat dan berkualitas bagi batang dan ranting juga daun kalian, agar bisa menghasilkan bunga dan buah yang lebih baik lagi.

...

So proud of be my self 🙂